Cerita dari Buru ke Tepi Baubau

Pelabuhan Namlea/Oenong.

Kapal bergerak maju. Kecepatan sesekali diperlambat setiap kali memasuki area yang dihuni sejumlah nelayan. Ini sisa dari perjalanan enam belas jam dari laut Namlea, Pulau Buru, Ahad, 18 April 2021 pukul 13.25 WIT.

Dari Namlea, saya mengabarkan seorang kawan. Bapaknya yang kini almarhum sempat menjadi penghuni di Pulau Buru sebagai tahanan politik sejak 26 Agustus 1971. Rombongan ini didatangkan melalui perairan Cilacap, Jawa Tengah, dengan KM Towuti.

Dalam pesan pendek melalui akun ini, saya menyatakan kekaguman karena sempat membaca tulisan almarhum. Artikel itu mengisahkan lika-liku tahanan politik di pulau angker itu terbit pada November 2005 di majalah Tempo. Ia baru meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah pada 12 November 1979.

“…saya menghabiskan delapan tahun di pulau itu, delapan tahun dari usia paling produktif seorang manusia!,” tulis almarhum. Setiap kali membaca artikel bertajuk “Buru, Menziarahi Negeri Penghabisan”, mata saya basah. Membayangkan puluhan tahun silam tapol dipaksa membongkar hutan. Membuat sawah, bercocok tanam, beternak, dan mendirikan bangunan.

Dari pulau purgatorio—sebutan Hersri Setiawan untuk Pulau Buru—saya membaca rangkaian peristiwa: kekerasan dan pembunuhan, sesuatu yang tidak sulit dilakukan mereka yang berkuasa. Tak ada pengadilan yang menyebut mereka bersalah sebelum dipenjara di hutan rimba.

Rekan itu membalas pesan saya, yang menyatakan bahwa almarhum tidak pernah menulis buku perihal penjara di hutan rimba itu. Barangkali, tidak menulis buku itu sebagai alasan ia ingin melupakan masa pahit yang menerpanya di sana.

“Mungkin karena almarhum tidak mau kembali membuka masa-masa pahit saat itu, dan ini sepertinya yang menjadi alasan kenapa beliau sampai di akhir hayatnya tidak pernah menulis buku tentang Pulau Buru,” kata rekan itu, dalam pesan pendeknya ketika saya memberitahunya sedang berkunjung ke Buru. Saya tercenung.

Sejarah menciptakan orang-orang yang tak pernah bisa ditaklukan. Kecuali dengan tangan yang dibenci para Dewa. Kekerasan tidak akan pernah kalah jika harus dibalas dengan dendam. Menelan itu dalam-dalam adalah cara melawan yang terbaik. Sebab, dari dalam sana, perlawanan bisa dikemas dengan berbagai cari. Termasuk humor.

Sejak dua pekan lalu, saya melintas di atas tanah yang di setiap sudutnya menguar bau minyak kayu putih. Tak hanya tapol, pulau ini merupakan brankas yang mengarsip sejumlah cerita bengis. Kekerasan penjajah hingga para abdi bangsa ini. Dari dek delapan, pandangan saya tak lepas dari bukit-bukit yang berbaris tak lurus. Di kejauhan bukit hijau, kering, dan tandus memunculkan rupa di bawah matahari terik.

Semua berlalu, ketika kapal bertolak dan Buru didepak ke belakang.
Tadi, saya tiba di Baubau, Sulawesi Tenggara. Dari laut lepas saya tak menyaksikan ujung Benteng Keraton Buton. Bangunan perkasa yang tercatat sebagai benteng paling luas di dunia. Ia adalah markas pertahanan masyarakat Buton ketika beradu otot melawan penjajah.

Dari dek IV kapal Doro Londa, saya merasakan getar dan oleng ketika ombak memainkan gelagatnya. Pulau-pulau kecil sekilas muncul. Namun, seketika menghilang di belakang. Seperti kata Goenawan Mohamad, laut ternyata tak bisu.

Kapal menjatuhkan sauh di Baubau. Menempel bibir dermaga. Sekawanan buruh merangsek naik ke kapal. Berdesakkan dengan penumpang yang masa pelayarannya berakhir di kota ini. Mereka saling siku antara pengunjung dan bekas penumpang. Tak hanya riuh, juga gaduh. Beginilah pergumulan di kapal putih siang tadi.

Kapal stom. Tanda penumpang boleh turun. Saya mengangkut satu ransel dan tas gendong samping. Dua teman mengawal di belakang. Sejak bertolak dari Buru, kami berkenalan. Misalnya, Muhamad Kahfi, asal Sukabumi dan berlayar hingga Jakarta. Ia mengelilingi sebagian wilayah Indonesia dengan misi terlibat dalam aksi sosial.

“Saya membagi buku dan alat tulis di kampung terakhir Gunung Latimojong,” kata Kahfi. Ia juga sempat menjadi relawan untuk banjir di Kalimantan. Tapi, ia lebih akrab dengan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan anak-anak di pedalaman. Beberapa waktu lalu ia baru menyudahi perjalanan ke Banda Naira.

Zaky, 21 tahun, pria asal Bogor yang datang mewakili organisasi pencinta alam di Bandung bersama dua rekannya meneliti goa di Lisabata, Seram Barat.

“Orang di sana baru tahu, ternyata di belakang kampung mereka banyak goa,” kata Zaky, ketika berbagi kisah dengan saya di depan kantin dek delapan.

Kata dia, masyarakat di sana masih menganggap goa sebagi tempat angker. Meniru masyarakat di sana, ia berujar, “Bersyukur kalian bisa keluar dari goa dengan selamat.” Ada rekan lain yang datang dari Tulehu, dan bertugas di Bandara Halimperdana Kusumah, Jakarta, sebagi anggota keamanan.

Pelayaran sehari-semalam suntuk mendatangkan banyak cerita. Sekarung kisah menarik saya terima dari pengalaman mereka yang datang dan pulang dari rantau. Selama perjalanan arak tradisional, sopi, berkeliling dalam lingkaran perkawanan kami di Doro Londa. Saya sebagai penonton, tak lama mata mulai sayu. Lagu-lagu Ambon dinyanyikan dengan suara yang dibikin merdu dengan harapan bisa menyamai penyanyi asli.

Ketika aroma minuman yang diperas dari pohon aren itu mendekati hidung, kepala saya terasa puyeng. Baunya tajam dan seperti lem yang lengket di hidung. Dalam hati, saya berucap, “Ah, saya tidak mabuk.” [*]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s